Sastrawan Lampung Ramaikan Dunia Literasi Nasional, Potensi Wisata Literasi yang Terabaikan
LAMPUNG, LELEMUKU.COM - Lampung menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan sastra Indonesia dengan tidak kurang dari 36 penyair dan sastrawan yang meramaikan lembar-lembar sastra koran, jurnal dan majalah seantero negeri. Namun potensi wisata literasi dari kekayaan sastra Lampung ini masih belum digarap secara optimal.
Kehidupan sastra di Lampung dapat dikatakan sangat semarak meskipun usia dunia kesusastraan Lampung relatif masih muda. Penyair dan seniman Lampung antara lain Thamrin Effendi, Isbedi ZS, A.M. Zulqornain, Sugandhi Putra, Djuhardi Basri, Naim Emel Prahana dan beberapa nama lainnya telah membuka jalan bagi generasi penerus.
Memasuki tahun 1990-an, Lampung mulai semarak dengan penyair-penyair seperti Iswadi Pratama, Budi P. Hatees, Panji Utama, Udo Z. Karzi, Ahmad Yulden Erwin, Christian Heru Cahyo, Oyos Saroso H.N. dan lain-lain. Generasi ini membawa warna baru dalam lanskap sastra Lampung dengan gaya dan tema yang lebih beragam.
Menyusul kemudian generasi penyair seperti Ari Pahala Hutabarat, Budi Elpiji, Rifian A. Chepy, Dahta Gautama dan kawan-kawan yang terus memperkaya khazanah sastra Lampung. Kini ada generasi muda seperti Dina Oktaviani, Alex R. Nainggolan, Jimmy Maruli Alfian, Y. Wibowo, Inggit Putria Marga, Nersalya Renata dan Lupita Lukman yang melanjutkan estafet sastra Lampung.
Selain penyair, Lampung juga melahirkan cerpenis berbakat seperti Dyah Merta dan M. Arman AZ yang karyanya dimuat di berbagai media nasional. Leksikon Seniman Lampung yang diterbitkan tahun 2005 mencatat kontribusi signifikan para sastrawan Lampung dalam dunia literasi Indonesia.
Keberadaan komunitas sastra yang aktif, gelaran festival sastra, rumah baca, dan berbagai kegiatan literasi lainnya di Lampung sebenarnya dapat dikembangkan menjadi wisata literasi yang menarik. Wisatawan yang tertarik dengan dunia sastra dapat mengunjungi rumah-rumah sastrawan, mengikuti diskusi sastra, atau bahkan menghadiri acara peluncuran buku dan pembacaan puisi.
Konsep wisata literasi ini dapat mengintegrasikan kunjungan ke tempat-tempat yang menjadi inspirasi para sastrawan Lampung dalam menulis karya mereka. Pelancong dapat menelusuri jejak sastra sambil menikmati keindahan alam dan budaya Lampung yang sering menjadi tema dalam karya sastra mereka.
Beberapa daerah di Indonesia seperti Yogyakarta dan Bali telah berhasil mengembangkan wisata literasi yang menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara. Lampung dengan 36 penyair dan sastrawan yang produktif sebenarnya memiliki modal yang tidak kalah kuat untuk mengembangkan konsep serupa.
Pemerintah daerah dan komunitas sastra di Lampung dapat berkolaborasi menciptakan paket wisata literasi yang meliputi kunjungan ke perpustakaan, toko buku indie, sanggar sastra, hingga diskusi interaktif dengan sastrawan lokal. Festival sastra dapat dikemas sebagai event tahunan yang menarik wisatawan seperti halnya Ubud Writers and Readers Festival di Bali.
Pengembangan wisata literasi tidak hanya akan mempromosikan karya sastrawan Lampung tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif baru. Penjualan buku karya sastrawan lokal, merchandise bertema sastra, hingga penginapan bernuansa literasi dapat menjadi produk wisata yang unik dan menarik. Lampung memiliki semua bahan untuk menjadi destinasi wisata literasi, yang dibutuhkan hanyalah visi dan komitmen untuk mewujudkannya. (evu)
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Lelemuku.com di Grup Telegram Lelemuku.com. Klik link https://t.me/lelemukucom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.
Lelemuku.com - Cerdaskan Anak Negeri